wahai para pencinta yang sedang dimabuk cinta oleh yang dicinta..
bisakah kau memberitahuku apa yang dinamakan dengan cinta? aku sungguh tidak mengenalnya.
yang aku tahu, cinta itu ada pada belaian lembut seorang ibu kepada anaknya, setiap tetes keringat atas rupiah yang ayah perjuangkan untuk anaknya, cinta itu ada pada setiap nasihat ibu yang tak ada hentinya mengoceh, ada pada setiap tamparan amarah sang ayah kepada kesalahan anaknya. cinta itu ada pada setiap do'a yang ayah dan ibu panjatkan, juga ada pada setiap kebaikan dan dukungan teman-teman. ya, hanya itu yang aku tahu. aku kenal betul cinta yang demikian. aku berkali-kali mendengar kata cinta. aku pun berkali-kali disapa oleh yang namanya cinta. aku sampai hampir muak mendengarnya.
tapi ketika aku menghampirinya, ternyata bukan itu yang sesungguhnya bernama cinta.
aku bingung. cinta datang dalam wujud yang berbeda-beda. cinta datang dengan aroma yang berbeda-beda. kadang dia memakai jaket, kadang dia memakai seragam almamater. bahkan kadang dia datang dengan berkendara. kendaraannya pun bermacam-macam jenisnya.
tapi dengar-dengar sih yang namanya cinta itu datang dengan motor ninja, atau mobil mercedens benz. tapi juga dengar-dengar cinta itu tidak perlu datang dengan kendaraan apa-apa.
cinta pun datang kemudian tersenyum manis sekali seraya berkata, "jalan yuk, kita berkeliling kota lalu makan malam berdua."
setelah itu biasanya dia melakukan hal-hal atau berkata-kata sebagai pembuktian bahwa memang dialah yang bernama cinta. tapi anehnya setelah itu, aku malah berlari-lari, aku masih mencari dimanakah keberadaan cinta. dan tidak lama kemudian, cinta bukanlah cinta. ternyata aku masih belum mengenalnya!
wahai sang pencinta yang sedang bergejolak dengan rasa yang katanya dinamakan cinta dan selalu bersama cinta, apa benar yang sedang bersamamu adalah cinta? atau hanya mengaku-ngaku sebagai cinta? jika dia adalah benar-benar cinta dan kau teramat sangat mengenalinya, tolong beritahu aku. akupun ingin berkenalan dengannya.
tapi ngomong-ngomong, ibuku pernah bilang padaku, "kau tak perlu repot-repot berkenalan dengan cinta. kau kenali saja dulu dirimu dengan baik."
mungkin maksud ibuku itu supaya aku terlindungi dari yang hanya mengaku-ngaku sebagai cinta.
tapi aku sudah menginjak usia dewasa, sudah memiliki ktp, sudah boleh menonton film segala genre, apakah aku masih terlalu dini untuk mengenal cinta?
kemudian aku semakin bertanya kepada banyak orang. tapi anehnya jawaban, "sebenarnya aku pun belum mengenal cinta." juga muncul dari orang-orang yang sudah memakai cincin kawin.
wahai kalian para pencinta, pemabuk cinta, yang selalu bersama cinta, jika kalian tahu dimana rumahnya, tolong beritahu aku secepatnya! jangan lama-lama!
Friday, March 23, 2018
Tuesday, April 19, 2016
Singkat saja, aku merindukanmu.
Lagi, fajar telah tampak. Jam telah menunjukkan pukul enam pagi. Aku segera bergegas mempersiapkan diri untuk menghadapi kuliah pagi ini. Ini yang paling aku benci, hari dimana aku terasa seperti anak sekolah kembali yang harus siap pagi-pagi dan sudah duduk manis di ruangan kelas pada pukul tujuh pagi. Dan hanya hari ini. Sementara hari yang lain, aku cenderung santai masuk kuliah pada siang hari.
Aku melihatmu lagi, sama seperti hari-hari sebelumnya. Kamu juga masih sama seperti hari-hari sebelumnya, berada diantara teman-temanmu dan mengacuhkanku. Tidak ada sapaan manis sedikitpun yang terucap dari bibir kecil manismu. Ah, sudahlah. Aku pun menghampiri teman-temanku. Aku mencoba menghibur diri bersama mereka seolah tidak terjadi apa-apa dan seolah tidak ada amarah yang timbul di dalam hati karenanya. Hingga mata kuliah berlangsung, hingga mata kuliah diakhiri. Ya, kita selalu berada dalam satu kelas yang sama untuk beberapa mata kuliah. Aku menyadarinya, namun apakah kamu selalu tidak menyadarinya?
Begitupun dengan keesokan harinya. Terjadi lagi dan lagi setiap hari. Hingga aku hafal gerak-gerikmu dan aku hafal siapa saja yang akan kamu hampiri, bahkan hingga aku terbiasa kikuk untuk sekedar menyapamu. Namun lama-lama aku merindukanmu. Aku rindu akan segala waktumu untukku. Aku rindu waktu dimana hanya ada aku dan kamu saja. Namun kamu kerap kali tidak menggagasnya. Kamu terlalu menikmati duniamu sendiri. Waktumu seakan-akan hanya untuk teman-temanmu. Kamu jarang sekali menyisihkan waktumu untukku. Kamu begitu asyik memenuhi hobimu bersama teman-temanmu. Hingga aku tidak berani mengusikmu. Meski beberapa orang terdekat mengatakan, “kenapa kamu ga ikut aja? Ikut menikmati dunianya. Toh, hobimu sama hobinya tidak jauh berbeda. Toh, teman-temannya juga teman-temanmu.” Namun sekali lagi, aku tidak berani mengusikmu. Sebagaimana permintaanmu yang kerap kali kamu sampaikan untuk tetap menghargai teman-teman, menghargai waktu teman-teman, baik teman-temanku maupun teman-temanmu. Sebagaimana permintaan keduamu untuk tidak mengumbarkan tentang kita berdua. Aku pun mencoba memahami dan menurutimu. Sebab, ada benarnya juga. Biar bagaimanapun, teman-teman harus tetap menjadi prioritas utama. Keutuhan hubungan dengan teman-teman harus tetap terjaga. Aku pun tidak ingin hubungan pertemananku retak hanya karena suatu perasaan. Namun tahukah kamu? Aku kerap kali cemburu. Aku cemburu dengan teman-temanmu yang lebih mudah menyita waktumu.
Terkadang aku berfikir, apakah aku harus menjadi temanmu saja? Namun sepertinya kamu tidak selera untuk memiliki teman wanita. Bahkan kepada teman-teman wanitamu sendiri saja, kamu bersikap acuh tak acuh. Hingga mereka menganggapmu sebagai pria yang kaku dan apatis.
Hingga aku bertanya kepada salah satu teman terdekatmu mengenai alasannya. Ia hanya menjawab bahwa kamu memang acuh kepada wanita. Kamu sulit bersosialisasi dengan wanita. Hingga kamu cenderung tidak mempunyai teman dekat wanita. Ketika aku protes kepadamu, jawabanmu tidak jauh berbeda. Kamu pun menceritakan kepadaku bahwa dirimu bukanlah seorang pria yang romantis yang bisa setiap saat menanyakan sedang apa? Dimana? Atau buru-buru menelfon saat rindu. Sehingga tidak ada komunikasi jarak jauh yang aku terima darimu atau suatu dering telfon dan pesan masuk yang bisa menjadi kejutan setiap malam selayaknya hubungan pada umumnya. Suatu pesan masuk dalam chatroom sosial media darimu pun tidak akan ada kecuali aku memulainya terlebih dahulu. Ah, apa sih bedanya wanita dengan pria? Apakah wanita itu terlalu merepotkan sehingga kamu sulit untuk bersosialisasi? Bagiku, tidak ada yang berbeda untuk berteman dengan siapa saja, baik dengan sesama jenis maupun lawan jenis. Apakah hal tersebut memang sudah menjadi watakmu sejak dulu? Hey! Aku ini kekasihmu, kan? Kekasih yang kamu sayangi, kan? Kamu tidak seharusnya memberlakukan hal ini kepadaku. Tidakkah kamu mengerti terhadap esensi wanita yang hakikatnya selalu menggunakan perasaan dalam hal apapun? Apalagi jika sudah terjebak perasaan seperti ini. Lalu aku berfikir, apakah aku harus menjadi seorang pria untuk mendapatkan hak yang sama dengan teman-temanmu? Apakah aku harus menjadi seorang pria agar aku bisa mencuri waktumu setiap detik? Ah, seandainya saja aku adalah seorang pria.
Berlebihan, ya? Maaf.. Aku tidak bermaksud menyalahkan teman-temanmu. Aku tidak bermaksud menyalahkanmu. Aku tidak bermaksud menyalahkan duniamu. Aku hanya ingin kamu mengerti. Sebagaimana seorang kekasih dan sebagaimana seorang wanita, aku juga ingin dimengerti bahwa aku menginginkan waktumu yang jarang sekali kamu sisihkan untukku. Aku pun ingin dihargai selayaknya kamu menghargai teman-temanmu.
Terkadang aku ingin menegaskan hal ini kepadamu. Aku ingin menanyakan perasaanmu yang sesungguhnya sekali lagi. Aku ingin membicarakan segala keganjilaan ini agar tidak lagi menyesakkan dada. Namun aku takut semua berubah. Ada suatu rasa yang aku takutkan dari dirimu. Aku takut kehilanganmu.
Dan aku melihat keacuhanmu lagi untuk kesekian kalinya. Aku sedang bersama teman terdekatku saat kamu melewatiku bersama teman-temanmu. Padahal aku menyapa semuanya, termasuk kamu. Semuanya meresponku ramah kecuali kamu. "Ih, hebat sandiwaranya biar ga bikin geger sekampus nie, hihi. Tapi parah tau.. yang lain yang cuman temen aja merespon kok dan ga sampe segitunya. Pacar macam apa itu?" ujar teman terdekatku mengomentari sikapmu.
Sandiwara? Ya, bisa jadi. Sebab, teman-teman kita tidak banyak yang mengetahui hubungan ini. Kita tidak pernah menunjukkan kemesraan di depan teman-teman kita. Kan kamu tidak ingin mengumbarnya. Aku hanya terdiam, tidak meresponnya.
Kedua kalinya, teman terdekatku yang lain mengomentarimu dengan ketus saat kamu hanya melewatiku, "Gila! Itu pacar lo atau pembantu sih? Cuek amat! Lo kok mau aja dicuekin kayak gitu?"
Speechless. Aku tidak berujar apa-apa terhadap apa yang telah dikatakannya. Hingga ia mengirimkan pesan bbm kepadamu, bukan? Ia mengomentari langsung sikapmu terhadapku yang tidak seharusnya kamu lakukan.
Nah loh.. Ada yang meragukanmu. Teman-temanku tidak percaya kepada ketulusanmu. Bahkan mereka meragukan hubungan ini. Mereka ragu akan keutuhan hubungan ini. Mereka menganggapku tidak bahagia dalam hubungan ini.
Iya, memang. Aku kerap kali merasa sedih menghadapimu, wahai kekasihku yang sepertinya lebih sayang terhadap teman-teman. Namun aku tetap menikmati irama yang kamu ciptakan dalam hubungan ini. Aku berusaha semampuku untuk memendam semuanya. Aku berusaha merasa seolah tak terjadi apa-apa. Meski ada kutipan yang mengatakan, “cinta itu terdapat keserasian dari kedua belah pihak. Apabila hanya sepihak, berarti dia tidak menyayangimu apalagi mencintaimu.” Namun entahlah! Mungkin aku terlalu terjebak dalam irama yang amat sangat bersahabatkan rindu. Atau mungkin aku terlalu terjebak dalam perasaanku yang seperti perasaannya Tere Liye yang tidak sesederhana 1+1=2.
Teruntuk kekasihku yang kerap mendiamiku, Aku merindukanmu. Dan hey! Negeri ini begitu indah! Kata orang, setiap sudutnya itu romantis! Mengapa tidak kita merasakannya berdua? Menjelajahi setiap sudut romantisnya itu. Aku rindu berkencan denganmu. Sesungguhnya tidak hanya berdua pun tidak masalah. Kamu boleh mengajak mereka merasakannya. Asal ada aku dan kamu, aku tetap bahagia, yang penting aku mendapatkan waktu indahmu. Meskipun aku lebih bahagia apabila hanya ada aku dan kamu saja. Sebab, aku merindukanmu, kekasihku! Singkat saja, aku merindukanmu.
Tuesday, May 5, 2015
Selamat ulang tahun, Afany…
Hai guys, tema ceritaku masih tentang hari kelahiran nih…
yup, tapi yang kali ini tentang ulang tahun sahabatku. :)
Yang namanya ulang tahun itu ngga ada habis-habisnya ya,
guys! Siapapun pasti memiliki hari istimewa tersebut. Dan siapapun pasti suka
dan bahagia pada hari ulang tahunnya, ya seenggaknya bersyukur kepada Tuhan YME
lah guys.
Hmmmm, sebenarnya ini juga latepost.
Karena pada sesungguhnya ulang tahun sahabatku itu pada tanggal 30 april,
berarti hari ini sudah H+5. Ya maklum saja, sang newbie on blogger ini, sekali
lagi baru sempet yang namanya nge-blog dan baru buka blogger :D Tapi enggak
apa-apa lah ya, yang namanya doa itu enggak akan pernah ada batasnya. Jadi aku
tetap post hari kelahirannya ini. Khusus untuk sahabat masa SMA ku ini (ciaaah,
masa sma! Padahal baru selesai UN kemaren :D tapi gapapa lah ya, emang kenalnya
di masa SMA kok), meskipun kami cukup sering terjadi konflik (entah cinta atau
apalah), biar bagaimanapun kisahku bersamamu tetap yang terindah. Dan asal kamu
tahu, masa-masa itu adalah masa yang terindah di SMA :)
Dan masa itu bermula saat kami
ditakdirkan sekelas di kelas 3 (haha kayak apa aja :D). lalu kami saling akrab
satu sama lain. Pertama yang terpancar darinya adalah wajah lugu, cukup manis,
dan apa adanya. Dia selalu tampil simple, enggak ada yang direkayasa. Dia ramah
dan mudah bergaul. Dia juga suka menyapa (tapi bukan nyapa-nyapa kayak orgil
dong yaa), maksudnya upaya untuk mengakrabi setiap orang di sekitarnya. Tak
heran bila dia mudah dikenal dan disayangi. Hingga kami masuk kepada sesi yang
paling indah menurutku. Cinta Segitiga. Ya, kami pernah mengalami cinta
segitiga. Tapi kami tak pernah merasa ada persaingan. Kami sama-sama mengakrabi
si objek itu kok. Dan selama dia ada untuk mewarnai hari-hari kami, kisahnya
terus menerus terasa manis. It’s so yummy! Dan kami menyukainya ^_^
Ok, check it out…
Kembali ke topik utama ya, guys!
By the way, ini nih sahabat yang saya maksud.
ini foto kami berdua. sebenarnya masih banyak lagi sih, kita hidupnya selfie terus :D memanfaatkan teknologi yang sudah canggih, cuy!
Cantik, bukan? ^^
Sayangnya pada hari-H ulang tahunnya,
aku ngga ketemu. Perpisahan setelah UN ini memang menyedihkan, guys! Membuat
satu sama lain ngga mudah untuk bertemu. Jadi ngga bisa ngasih apa-apa deh
melainkan sebuah do’a dari jarak yang jauh di mato. :’)
Selamat ulang tahun, sahabatku, Afany
tawwab yang ke 18 tahun… semoga panjang umur. Selalu dalam lindungan Allah S.W.T, berkah
umurnya, makin dewasa. dimudahkan segala urusannya, makin disayang keluarga dan
orang-orang tercinta, sukses segala impiannya, sukses kuliah di PTN yang kamu
inginkan termasuk UPI Bandung yang kamu idam-idamkan, Sukses jadi guru
matematika seperti yang kamu impikan, terus nanti IP. Nya tinggi, ilmunya
berkah, kerjanya mapan, jadi wanita sholehah, terus jadi istri yang terbaik
untuk suamimu kelak, berkah, berkah, dan berkah hidupmu. Dan sekali lagi,
selalu dalam lindungan Allah S.W.T. aamiin :)
XOXO
Vicky Mazaya
Subscribe to:
Posts (Atom)

